Rabu, 13 November 2013

karya ilmiah tentang suku anak dalam

BAB I
Pendahuluan
a.     Latar belakang masalah
Sejarah Suku Anak Dalam atau SAD masih penuh misteri, bahkan hingga kini tak ada yang bisa memastikan asal usul mereka. Hanya beberapa teori, dan cerita dari mulut ke mulut para keturunan yang bisa menguak sedikit sejarah mereka.Suku- suku di Indonesia merupakan asset budaya bangsa yang menunjukkan kebhinekaan harmonis kebhinekaan ini tercermin pula pada suku anak dalam di jambi Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatera Selatan.
 Mereka mayoritas hidup di propinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang. Sejarah Suku Anak Dalam atau SAD masih penuh misteri, bahkan hingga kini tak ada yang bisa memastikan asal usul mereka. Hanya beberapa teori, dan cerita dari mulut ke mulut para keturunan yang bisa menguak sedikit sejarah mereka.Sejarah lisan Orang Rimba selalu diturunkan para leluhur. Tengganai Ngembar (80), pemangku adat sekaligus warga tertua SAD yang tinggal di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, mendapat dua versi cerita mengenai sejarah Orang Rimba dari para terdahulu ,Sedangkan perilaku Orang Rimba yang kubu atau terbelakang, menurut Ngembar, disebabkan beratus tahun moyang mereka hidup di tengah hutan, tidak mengenal peradaban. Dalam menjalankan kehidupan sehari- hari, mereka memiliki sistem kepemimpinan yang berjenjang seperti tuminggung, depati, mangku, menti dan jenang. Tumenggung merupakan jabatan tertinggi.
Pada umumnya mereka percaya terhadap dewa-dewa, istilah ethnik yakni dewo-dewo.mereka yang percaya roh-roh sebagai sesuatu kekuatan gaib.sisitim kekerabatan orang rimba tidak boleh menyebut nama-nama mereka, dan tidak boleh juga menyebut orang yang telah meninggal dunia.sebelum menikah tidak ada tradisi berpacaran.kebudayaan suku anak dalam ini sangat berbeda dengan kebudayaan masyarakat modern seperti sekarang ini.Cara mereka hidup tidak jauh berbeda dengan masyarakat lainnya, hanya saja mereka hidup sangat tradisional Dengan bermacam cara kehidupan suku anak dalam mulai dari segi budaya, cara mereka bertahan hidup dan keahlian mereka, banyak yang ingin mengetahui semua kehidupan mereka saya mengangkat tema ini karena menurut saya suku kehidupan suku anak dalam masih misterius belum di terungkapkan sejarahnya dari mana dan kapan dia muncul, dan cara mereka mempertahankan hidup sehari- hari.



b.     Tujuan penelitian
-         Untuk mengetahui lebih dalam kehidupan suku anak dalam
-         Memahami budaya apa saja yang ada di suku anak dalam

c.      Rumusan masalah
1.     Bagaimana cara mereka hidup?
2.     Dari mana sebenarnya asal Suku Anak Dalam Jambi?
3.     Siapa sajahkah yang berperan dalam tingkatan suku anak dalam
4.     Apa saja aktifitas suku anak dalam sehari- hari
5.     Apa saja upacara adat yang ada di suku anak dalam?
6.     Dimana sajakah tempat tinggal mereka?
7.     Apa Ciri-ciri fisik dan non fisik suku anak dalam?







d.     Landasan teori
Menurut tradisi lisan suku Anak Dalam merupakan orang Maalau Sesat, yang m lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, Taman Nasional Bukit Duabelas. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo. Tradisi lain menyebutkan mereka berasal dari Pagaruyung, yang mengungsi ke Jambi. Ini diperkuat kenyataan adat suku Anak Dalam punya kesamaan bahasa dan adat dengan suku Minangkabau, seperti sistem matrilineal. Menurut Muchlas (1975) suku anak dalam berasal dari tiga keturunan, yaitu:Keturunan dari Sumatera Selatan, umumnya tinggal di wilayah Kabupaten Batanghari.Keturunan dari Minangkabau, umumnya di Kabupaten Bungo Tebo sebagian Mersam (Batanghari). Keturunan dari Jambi Asli yaitu Kubu Air Hitam Kabupaten Sarolangun Bangko (Muchlas, 1975) Menurut Van Dogen (1906) bahwa orang rimba sebagai orang primitive dan tak beragama.
Menurut  hasil  penelitian sejarah dan budaya, departemen pendidikan dan kebudayaan Indonesia ( 1977:127) , orang rimba meyakini bahwa jika ada keluarga atau saudara mereka yang sakit berarti dewa telah menurunkan malapetaka. Oleh sebab itu, sebagai bujukan kepada dewa agar menyembuhkan penyakit tersebut mereka mengadakan upacara besale,
Tengganai Ngembar (80), pemangku adat sekaligus warga tertua SAD yang tinggal di Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, mendapat dua versi cerita mengenai sejarah Orang Rimba dari para terdahulu. Ia memperkirakan dua versi ini punya keterkaitan.Yang pertama, leluhur mereka adalah orang Maalau Sesat, yang meninggalkan keluarga dan lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, TNBD. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo.Sedangkan versi kedua, penghuni rimba adalah masyarakat Pagaruyung, Sumatera Barat, yang bermigrasi mencari sumber-sumber penghidupan yang lebih baik. Diperkirakan karena kondisi keamanan tidak kondusif atau pasokan pangan tidak memadai di Pagaruyung, mereka pun menetap di hutan itu.
     Senada dengan Bernard Hagen (1908) dalam Tempo (2002) (die orang kubu auf Sumatra) menyatakan orang rimba sebagai orang pra melayu yang merupakan penduduk asli Sumatera. Demikian pula Paul Bescrta mengatakan bahwa orang rimba adalah proto melayu (melayu tua) yang ada di semenanjung Melayu yang terdesak oleh kedatangan melayu muda.



Bab II
Pembahasan
Sejarah Suku Anak Dalam atau SAD masih penuh misteri, bahkan hingga kini tak ada yang bisa memastikan asal usul mereka. Hanya beberapa teori, dan cerita dari mulut ke mulut para keturunan yang bisa menguak sedikit sejarah mereka.  Yang pertama, leluhur mereka adalah orang Maalau Sesat, yang meninggalkan keluarga dan lari ke hutan rimba di sekitar Air Hitam, TNBD. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo.
 Sedangkan versi kedua, penghuni rimba adalah masyarakat Pagaruyung, Sumatera Barat, yang bermigrasi mencari sumber-sumber penghidupan yang lebih baik.
 Diperkirakan karena kondisi keamanan tidak kondusif atau pasokan pangan tidak memadai di Pagaruyung, mereka pun menetap di hutan itu.     Keturunan dari Sumatera Selatan, umumnya tinggal di wilayah Kabupaten Batanghari. 2.Keturunan dari Minangkabau, umumnya di Kabupaten Bungo Tebo sebagian Mersam (Batanghari). 3.Keturunan dari Jambi Asli yaitu Kubu Air Hitam Kabupaten Sarolangun Bangko.
- Mereka hidup bisa juga seminomaden, karena kebiasaannya berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Tujuannya, bisa jadi “melangun” atau pindah ketika ada warga meninggal, menghindari musuh, dan membuka ladang baru. Orang Rimba tinggal di pondok-pondok, yang disebut sesudungon (sudung), terbuat dari kayu-kayu kecil beratap daun rumbiya berukuran 1 x 1,5 meter bangunan kayu hutan, berdinding kulit kayu, dan beratap daun serdang benal tapi kini atap itu diganti dengan terpal plastik, yang mereka peroleh saat menjual hasil perburuan mereka.
Karakter Suku Anak Dalam (orang rimba) gemar berpindah-pindah alias nomaden. "Terutama kalau ada yang meninggal dalam komunitas itu," kata Temenggung Maritua, tokoh adat Suku Anak Dalam yang diiyakan oleh Jenang Untung. Mereka percaya tempat tinggal mereka mendatangkan sial lantaran sudah mencabut salah seorang anggota keluarganya.
Namun saat ada keluarga yang meninggal, dengan melakukan tradisi melangun atau pindah dari komunitas itu setidaknya selama setahun. Kini tradisi melangun dipangkas hanya selama 4 bulan bahkan sebulan lantaran wilayah mereka yang kian sempit. Tumenggung, Kepala adat/Kepala masyarakat 2. Wakil Tumenggung, Pengganti Tumenggung jika berhalangan 3. Depati, Pengawas terhadap kepemimpinan tumenggung 4. Menti, Menyidang orang secara adat/hakim 5. Mangku, Penimbang keputusan dalam sidang adat 6. Anak Dalam, Menjemput Tumenggung ke sidang adat 7. Debalang Batin, Pengawal Tumenggung 8. Tengganas/Tengganai, Pemegang keputusan tertinggi sidang adat dan dapat membatalkan keputusan. Tempat tinggal Habitat Orang Rimba.
Di kawasan Cagar Biosfir Bukit Duabelas yang merupakan wilayah tempat tinggal atau habitat Orang Rimba ini , terdapat tiga kelompok Orang Rimba yaitu kelompok Air Hitam di bagian selatan kawasan, Kejasung di bagian utara dan timur serta Makekal di bagian barat kawasan. Penamaan kelompok-kelompok tersebut disesuaikan dengan nama sungai tempat mereka tinggal.
Seperti halnya masyarakat umum, Orang Rimba juga merupakan masyarakat yang sangat tergantung dengan keberadaan sungai sebagai sumber air minum, transportasi dan penopang aktifitas kehidupan lainnya.
Orang Rimba hidup dalam kelompok kelompok kecil yang selalu menempati wilayah bantaran sungai baik di badan sungai besar ataupun di anak sungai dari hilir sampai ke hulu.
 Pada awalnya untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya, Suku Anak Dalam, melaksanakan kegiatan berburu, meramu, menangkap ikan dan memakan buah-buahan yang ada di dalam hutan. Namun dengan perkembangan pengetahuan dan peralatan hidup yang digunakan akibat adanya akulturasi budaya dengan masyarakat luar, kini telah mengenal pengetahuan pertanian dan perkebunan. Berburu binatang seperti Babi, Kera, Beruang, Monyet, Ular, Labi-labi, Rusa, Kijang dan berbagai jenis unggas, merupakan salah satu bentuk mata pencaharian mereka. Kegiatan berburu dilaksanakan secara bersama-sama dengan membawa anjing. Alat yang digunakan adalah Tombak dan Parang. Di samping itu untuk mendapatkan binatang buruan juga menggunakan sistem perangkap dan jerat. Jenis mata pencaharian lain yang dilakukan adalah meramu didalam hutan, yaitu mengambil buah-buahan dedaunan dan akar-akaran sebagai bahan makanan. Lokasi tempat meramu sangat menentukan jenis yang diperoleh. Jika meramu dihutan lebat, biasanya mendapatkan buah-buahan, seperti cempedak, durian, arang paro, dan buah-buahan lainnya. Di daerah semak belukar dipinggir sungai dan lembah mereka mengumpulkan pakis, rebung, gadung, enau, dan rumbia.
Adapun kebiasaan yang harus kita hindari jikalau bertemu dengan Suku Kubu ( Anak Dalam ) jika kita berkunjung ke daerah Jambi. Mereka terkenal tidak pernah ‘mandi’ jadi hal terbaik jangan pernah menunjukkan gerakkan kalau kita merasa terganggu akan ‘bau badan’ mereka.

Jika kita atau mereka meludah ke tanah dan mereka menjilat ludah tersebut secara tidak langsung kita sudah menjadi bagian dari mereka ( mereka memiliki ilmu gaib yang bisa dikatakan sakti ). Percaya atau tidak percaya itulah kenyataan yang ada. Upacara besale merupakan upacara yang dilakukan olehsuku anak dalam (SAD) pada saat ada anggota keluarga yang mengalami sakit (biasanya sakit parah) dengan tujuan untuk menyembuhkan penyakit yang di derita.
 Upacara ini telah dilakukan turun temurun dari nenek moyang SAD sehingga menjadi tradisi yang sering dilakukan SAD apabila ada salah satu anggota keluarganya yang menderita penyakit.Menurut ketua adat desa senami dusun 3 upacara besale berasal dari daerah Mentawak Di daerah Sarolangun. Upacara besale di pandu oleh seorang pawang atau dukun yang di percaya memiliki ilmu yang turun-temurun yang nantinya akan menari dan bernyanyi membacakan jampijampi yang ditujukan untuk orang yang sedang sakit tersebut. Sang dukun menggunakan pakaian yang berwarna putih yang terdiri dari celana panjang yang berwana putih, penutup kepala dari kain putih yang dililitkan ke kepala sang dukun dilengkapi dengan tudung yang terbuat dari kain putih.
 Perlengkapan lainya seperti tenggiring yaitu berupa lonceng yang terbuat dari kuningan yang bersuara nyaring. Mangkuk kecil 2 buah tempat air jampijampian. Diujung kain putih terdapat pera yaitu ujung kain yang dipercaya bisa untuk mengobati anak-anak SAD yang sakit, dengan cara mencelupkan pera kedalam air dan air dari pera tersebut di teteskan ke mata anak yang sakit. Semua peralatan diatas di simpan dalam tempat yang terbuat dari anyaman rotan dan semua peralatan tersebut berusia lebih dari 100 tahun yang di turunkan dari nenek  moyang dari masyarakat SAD. Perlatan yang digunakan rumah-rumah kecil yang terbuat dari kayu dan anyam-anyaman dari rotan, burungburungan yang terbuat dari daun kelapa yang diletakan dia atas rumah-rumahan, daun mengkuang dan daun rumbai.
 Burung-burungan yang di anyam dari berbagai daun tersebut berjumlah 19 dengan nama yang berbeda diantaranya ada kelancang, garudo, sirih semah, pedang, d’mang, laying, denak, emai, ranyunai dan beberapa nama-nama burung lainya. Syarat-syarat lain yang harus di buat yaitu sesajian yang terdiri dari berbagai macam makanan yang juga diletakan di dalam rumah-rumahan yang telah di terdiri dari ayam panggang, telor, gelamai dan makanan lainya yang terbuat dari gula merah, gula putih, beras ketan, beras, kelapa, telor ayam, bawang merah dll.
Uniknya masakan yang di buat tersebut memiliki nama-nama yang unik pula diantaranya ada juanda, caco serabi, penganan pepuntir, buah bedaro,nasi kuning, nasi ketan putih dan lain sebagainya yang terdiri dari 18 jenis makanan. Dalam upacara adat besale di percaya bahwa apabila salah satu syarat dalam pembuatan upacara tidak di penuhi maka pengobatan yang dilaksanakan tidak begitu manjur bahkan dapat membuat arwah-arwah marah. Dukun yang mengasuh upacara ini dalam kondisi tidak sadarkan diri dan melantunkan lagu-lagu gaib yang tidak di sadari oleh si dukun terrsebut saat menyanyikanya. Boleh dikatakan pada saat melakukan tarian-tarian dan nyanyian dukun dibawah pengaruh arwah-arwah yang masuk ke dalam tubuhnya.
 Bait lagu sebagai pembuka upacara adat besale ini adalah: Betinjak dibungin baru sebiji Dijanjam baru setitik Angin baru serembus Beteduh di langit selebar paying Lagu-lagu yang di nyanyikan terus berlangsung selama semalam dalam kondisi seperti ini dukun dilarang makan, dukun menari-nari mengelilingi orang yang sakit yang duduk atau berbaring di bawah rumah-rumahan yang di buatsebelumnya, dengan mengibaskan bunga pinang yang di celupkan air yang telah dijampi-jampi kepada orang yang sakit tersebut sang dukun terus bernyanyi tanpa sadarkan diri diiringi oleh tabuhan gendang dari beberapa suku anak dalam lainya. Dana yang di butuhkan untuk melaksanakan upacara besale ini mulai dari 1.500.000-2.500.000 jumlah uang yang tidak sedikit untuk sebuah upacara adat sebagai media untuk menyembuhkan orang yang sakit, dengan kondisi keterbatasan kemampuan untuk melaksanakan upacara besale tersebut tidak jarang SAD hanya mampu membawa keluarganya ke puskesmas untuk di obati dan biaya yang dikeluarkan tidak sebanyak apabila mereka harus melaksanakan upacara besale.
Terkadang upacara yang telah dilaksanakan tidak mendatangkan kesembuhan bagi orang yang diobati, menurut pengakuan dukun hal ini terjadi karena kurang lengkapnya sesajian yang di buat. Dukun yang juga merupakan ketua adat sangat disegani di kalangan SAD, dan untuk menjadi seorang dukun yang kelak menggantikan beliau dibutuhkan orang yang memiliki kriteria-kriteria tertentu.
Untuk menjadi seorang dukun harus bertempur dengan guru yang merupakan dukun yang  akan memberikan ilmunya dengan menggunakan buah pinang muda dan pinang yang sudah masak. Namun, sebelumnya telah dilaksanakan pertapaan dengan berbagai syarat yang telah ditentukan. Apabila sang murid telah kebal terkena pecutan dari pinang muda dan telah mampu melewati berbagai tantangan selama menuntut ilmu yang telah diberikan maka sang dukun muda bisa menggantikan dukun yang sebelumnya dalam memandu upacara besale, mengobati orang yang sakit lainya.
Suku anak dalam termasuk golongan ras mongoloid yang termasuk dalam migrasi pertama dari manusia proto melayu. kulit sawo matang, rambut agak keriting, telapak kaki tebal, laki-laki dan perempuan yang dewasa banyak makan sirih.
Ciri fisik lain yang menonjol adalah penampilan gigi mereka yang tidak terawat dan berwarna kecoklatan. Hal ini terkait dengan kebiasaan mereka yang dari kecil nyaris tidak berhenti merokok serta rambut yang terlihat kusut karena jarang disisir dan hanya dibasahi saja.

Bab III
Penutup
A.   Kesimpulan
Suku anak dalam jambi (Suku Kubu) adalah orang malau sesat yang meninggalkan keluarganya dan lari kehutan rimba sekitar Taman Nasional Bukit 12 itu di namakan mayang segayo. Penghuni rimba itu masyarakat pagaruyung (Sumatra barat) yang berimigrasi mencari sumber kehidupan yang lebih baik.orang rimba menganut sistim matrinial, sama dengan budaya minag kabau. Mereka sehari-hari tanpa baju, kecuali cawat penutup kemaluan.rumahnya hanya beratap rumbia dan berdinding dari kayu.sering memakan buah-buahan dari hutan, berburu dan mengkonsumsi air dari sungai. Asal usul suku anak dalam pertama kali di publikasikan oleh Muntholib soetomo pada tahun 1995 dalam desertasinya yang berjudul “Orang Rimbo”.
B. Saran
          Bagi warga jambi tentu tidak ada yang tidak kenal dengan istilah “suku anak dalam”. Mereka adalah kelompok masyarakat terasing yang kehidupannya berada di sekitar bukit 12 jambi. Cara mereka hidup tidak jauh berbeda dengan masyarakat lainnya hanya saja mereka hidup sangat tradisional atau primitive yang tinggal di hutan. Walaupun mereka hidup di hutan kita tidak boleh meremehkan dan menganggap dia bukan bagian dari masyarakat kita. Sebaliknya dalam kehidupan kita harus menghargai dan menghormati budaya dan adat istiadat yang dianut mereka, kaarena itu semua adalah  asset budaya yang dimiliki Indonesia yang harus kita pelihara.
Yang harus kita lakukan bersama pada mereka adalah kita harus lebih peduli, apalagi kita tau pada saat sekarang pendidikan sangat penting. Dan di harapkan kita bias membantu dan member sedikit ilmu pengetahuan kepada mereka agar mereka bias menjadi orang yang lebih terdidik dan menjadi manusia yang berkualitas.



Daftar pustaka
  • Depsos RI. 1998, Masyarakat Terasing Suku Anak Dalam dan Dusun Solea Dan Melinani, Direktorat Bina Masyarakat Terasing, Jakarta.
  • Dian Prihatini, 2007. Makalah ”kebudayaan Suku Anak Dalam”. Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi. Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.
  • Dongen, C.J. Van. Tanpa Tahun, Orang Kubu (Suku Kubu), Arsip Museum Provinsi Jambi, Jambi.
  • Manurung, Butet. 2007, Sokola Rimba, Insist Press, Yogyakarta.
  • Muchlas, Munawir. 1975, Sedikit Tentang Kehidupan Suku Anak Dalam (Orang Kubu) di Provinsi Jambi, Kanwil Depsos Provinsi Jambi, Jambi.
  • Soetomo, Muntholib, 1995, Orang Rimbo : Kajian Struktural-Fungsional Masyarakat Terasing Di Makekal Provinsi Jambi, Universitas Padjajaran, Bandung.
  • http://arfaangel.blogspot.com/2008/07/asal-usul-dan-sejarah-suku-anak-dalam.html
  • http://jambicrew.blogspot.com
-         Ditulis oleh Shinta Anggreany, Mahasiswa KUKERTA UNJA
2010, dkk, bekerja sama dengan pemangku adat Dusun III
  • Senami Bapak Samin, Sumber : Bapak Samin









KARYA ILMIAH

NAMA: AMRINA ROSADA
KELAS : 2 IPA 4
TUGAS BAHASA INDONESIA KARYA ILMIAH
KEHIDUPAN SUKU ANAK DALAM DI KABUPATEN SAROLANGUN JAMBI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow me @Hello_KittyAR