Selasa, 14 April 2015

Proses Penyiapan & Penggunaan (Pengolahan Film Manual) RADIOFOTOGRAFI Universitas kader bangsa palembang

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb
    Alhamdulillahirobbil’alamin, puji syukur atas kehadirat Allah SWT Karena berkat Rahmat dan Karunia-Nya sehingga Kami dapat menyelesaikan Tugas ini yang berjudul “Proses Penyiapan & Penggunaan (Pengolahan Film Manual)” sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan.
        Dalam penyusunana tugas ini, kami sangat menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan pada tugas ini yang dikarenakan keterbatasan ilmu pengetahuan yang kami miliki. Maka dari itu, dengan ikhlas kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat mendidik dan membangun guna memberikan manfaat bagi kami maupun semua pihak terutama dikalangan program studi D III Teknik Rontgen Universitas Kader Bangsa Palembang dan juga demi kesempurnaan tugas di masa yang akan datang.
        Pada kesempatan ini  kami mengucapan terima kasih untuk semua pihak. Semoga Materi ini dapat berguna dan dapat menjadi bekal juga pengalaman kami untuk menjadi lebih baik lagi.

        Palembang,    Februari 2015








        Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar    i
Proses Penyiapan & Penggunaan (Pengolahan Film Manual)
BAB I    : Pendahuluan
o    Latar Belakang    1
BAB II    : Pembahasan
o    Larutan Developer    2
o    Pembilasan (rinsing)    4
o    Cara Pembilasan (rinsing)    4
o    Proses Pixing    4
o    Kandungan didalam larutan Fixing    5
o    Washing    7
o    Drying    7
o    Viewing    7

Daftar Pustaka    8

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
     Dalam radiofotografi kita mengenal pencucian film radiografi adapun cara pencucian film di lakukan dengan cara automatic  dan manual pencucian automatic di lakukan dengan menggunakan pencucian film automatic sedangkan yang manual hanya menggunakan tangan dan cairan- cairan pencuci adapun disini yang kami bahas adalah persiapan dan penggunaan pencucian film manual adapun tahapan-tahapan yang di lakukan di proses pencucian film manual adalah dengan larutan Developer,Rinsing (pembilasan), fixing, washing, drying dan viewing semua itu akan di bahas di pembahasan yang kami sajikan





BAB II
Pembahasan
•    Developer
Larutan developer terdiri dari: 
1)    Bahan pelarut (solvent)
Bahan yang dipergunakan sebagai pelarut adalah air bersih   yang tidak mengandung mineral.
2)    Bahan pembangkit (developing agent)
Bahan pembangkit adalah bahan yang dapat mengubah perak halida menjadi perak metalik. Di dalam lembaran film, bahan pembangkit ini akan bereaksi dengan memberikan elektron kepada kristal perak bromida untuk menetralisir ion perak sehingga kristal perak halida yang tadinya telah terkena penyinaran menjadi perak metalik berwarna hitam, tanpa mempengaruhi kristal yang tidak terkena penyinaran. Bahan yang biasa digunakan adalah jenis benzena (C6H6).
Reaksi kimia yang terjadi antara bahan pembangkit dengan film dapat dilihat sebagai berikut:
 Ag + Oksida bahan pembangkit + Br - + H+àAg Br + Bahan pembangkit

           
            2



3)    Bahan pemercepat (accelerator)
Bahan developer membutuhkan media alkali (basa) supaya emulsi pada film mudah membengkak dan mudah diterobos oleh bahan pembangkit (mudah diaktifkan). Bahan yang mengandung alkali ini disebut bahan pemercepat yang biasanya terdapat pada bahan seperti potasium karbonat (Na2CO3 / K2CO3) atau potasium hidroksida (NaOH / KOH) yang mempunyai sifat dapat larut dalam air.
4)    Bahan penahan (restrainer)
Fungsi bahan penahan adalah untuk mengendalikan aksi reduksi bahan pembangkit terhadap kristal yang tidak tereksposi, sehingga tidak terjadi kabut (fog) pada bayangan film. Bahan yang sering digunakan adalah kalium bromida.
5)    Bahan penangkal (preservatif)
Bahan penangkal berfungsi untuk mengontrol laju oksidasi bahan pembangkit. Bahan pembangkit mudah teroksidasi karena mengabsorbsi oksigen dari udara. Namun bahan penangkal ini tidak menghentikan sepenuhnya proses oksidasi, hanya mengurangi laju oksidasi dan meminimalkan efek yang ditimbulkannya
6)    Bahan-bahan tambahan
Selain dari bahan-bahan dasar, cairan pembangkit mengandung pula bahan-bahan tambahan seperti bahan penyangga (buffer) dan bahan pengeras (hardening agent). Fungsi dari bahan penyangga adalah untuk mempertahankan pH cairan sehingga aktivitas cairan pembangkit relatif konstan. Sedangkan fungsi dari bahan pengeras adalah untuk mengeraskan emulsi film yang diproses.
    3


•    Pembilasan (rinsing)
Rinsing merupakan proses pembilasan dengan menggunakan air mengalir selama 20–30 detik yang bertujuan untuk menghilangkan sisa-sisa larutan developer, menghilangkan activator alkali serta mencegah netralisasi asam fixer. Proses rinsing di lakukan secara manual tetapi tidak dilaksanakan pada proses otomatis (aoutomatic).
Terdapat dua cara rinsing yaitu dengan :
1.      Plain rinse bath ( dengan air , sebaiknya dengan air mengalir, jika dengan air diam harus sering diganti karena sudah banyak mengandung larutan developer dan itu akan menghambat proses penghilangan sisa cairan developer.
2.      Acid Stop Bath ( dengan larutan asam asetat 3% ).

•    Fixing
Proses fising di lakukan bertujuan untuk melarutkan dan menghilangkan kristal silver halide dari emulsi film, Menghentikan proses pembangkitan sehingga tidak ada lagi proses perubahan bayangan pada film serta Menyamak emulsi agar tidak mudah rusak. Proses fixing dilakukan dengan cara memasukkan film dalam larutan fixer selama 10 menit dan menggoncangkan film setiap 5-30 detik untuk mencegah terbentuknya gelembung udara sampai terbentuk bayangan gigi dan jaringan sekitarnya.


    4




Dalam proses fixing ada eberapa faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas fixer yakni kandungan larutan fixer, suhu fixer dan waktu fixer.
Larutan fixer memiliki beberapa kandungan di dalamnya, diantanya :
1.         Bahan penetap (fixing agent).
Dipilih bahan yang berfungsi mengubah perak halida. Bahan ini bersifat dapat bereaksi dengan perak halida dan membentuk komponen perak yang larut dalam air, tidak merusak gelatin, dan tidak memberikan efek terhadap bayangan perak metalik. Bahan yang umum digunakan adalah natrium thiosulfat (Na2S2O3) yang dikenal dengan nama hypo. Reaksi kimia yang terjadi pada film adalah sebagai berikut:
Na2S2O3 + AgBr = Na2Ag(S2O3)2) + NaBr
2)      Bahan pemercepat (accelerator).
Untuk menghindari kabut dikroik dan timbulnya noda kecoklatan, biasanya digunakan asam yang sesuai. Karena pembangkit memerlukan basa dalam menjalankan aksinya, maka tingkat keasaman cairan penetap akan menghentikan aksinya. Asam kuat seperti asam sulfat (H2SO4) akan merusak bahan penetap dan mengendapkan sulfur.  Maka bahan pengaktif yang umumnya dipergunakan adalah asam lemah seperti asam asetat (CH3COOH). Akan tetapi dengan penggunaan asam lemah ini masih terjadi pengendapan sulfur. Untuk mengatasi hal ini maka dipergunakan bahan penangkal.
        5


3)       Bahan penangkal (preservatif).
Untuk menghindari adanya pengendapan sulfur maka pada cairan penetap ditambahkan bahan penangkal yang akan melarutkan kembali sulfur tersebut. Bahan penangkal yang digunakan adalah natrium sulfit, natrium metabisulfit, atau kalium metabisulfit.
4)       Balian pengeras (hardener).
        Bahan ini digunakan untuk mencegah pembengkakan emulsi film yang berlebihan. Pembengkakan emulsi akan membuat perak bromida mudah terkelupas dan pengeringan film yang tidak merata. Bahan yang digunakan biasanya adalah potassium alum [K2SO4Al3(SO4)2H2O], aluminium sulfat [Al2(SO4) 3].
5)       Bahan penyangga (buffer).
Digunakan untuk mempertahankan pH cairan agar dapat tetap terjaga pada nilai 4 - 5. Bahan yang digunakan adalah pasangan antara asam asetat dengan natrium asetat, atau pasangan natrium sulfit dengan natrium bisulfit.
6)       Pelarut (solvent).
Pelarut yang umum digunakan adalah air bersih.


    6


D. Washing
Merupakan proses pencucian film dengan air sampai bau asam dari larutan fixer menghilang Tujuannya yakni menghilangkan bahan – bahan kimia selama proses fixing, antara lain Argento thiosulfat, sisa-sisa sodium thiosulfat dan bahan lain yang semuanya mudah larut di air. Sebaiknya dengan air mengalir dengan suhu tidak melebihi 25 ºC, Jika lebih akan merusak gelatin. Waktu ideal 10 menit di air mengalir (Jenkins, 1980), waktu yang terlau singkat menyebabkan masih banyak sisa cairan kimia yang terbawa di film menyebabkan fim mudah rusak. Proses washing yang tidak baik dapat menyebabkan discolorisasi dan menyebabkan stains (kotoran/noda) pada film yang dapan mengurangi keakuratan informasi diagnostik.
     E. Drying
Tujuan di lakukannya proses drying yakni Agar mudah dibawa dan disimpan, mengurangi kandungan air dalam film. Hal ini akan membuat emulsi lebih kuat dan mudah untuk dipegang serta menjaga visualisasi Image dengan cara membatasi efek radiasi dan refleksi yang disebabkan adanya air yang ada dipermukaan emulsi. suhu pengeringan sebaiknya 30º-40º C dengan kelembaban yang rendah yakni 60%.
F. Viewing
Tahap akhir adalah viewing, dengan menggunakan illuminator (viewing box). Hasil akhir dalam bentuk negatif image.
Daftar Pustaka
•    http://ilmuradiologi.blogspot.com/2011/09/tahapan-pengolahan-film-secara-utuh.html
•    http://farakadir.blogspot.com/2013/11/teknik-kamar-gelap_9.html
•    file:///D:/radiofotografi%20/Babeh%20Edi%20%20FLUOROSCOPY.htm
•    file:///D:/radiofotografi%20/Electromedical%20Engineering%20%20Pengamanan%20kegiatan%20Radiologi.htm


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow me @Hello_KittyAR